twitter instagram
By Novira Photography. Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • About Me
  • Gallery
    • 1
    • 2
    • 3
  • SoundCloud
  • VR Project

My Crying Room

1.Tendangan Dari Langit



Film ini memajang nama besar Irfan Bachdim di posternya. Filmnya memang memanfaatkan Irfan Bachdim sebagai role model, tokoh panutan. Tapi, justru bukan Bachdim yang membuat filmnya menarik (akting Bachdim kaku, cenderung mengganggu), melainkan kisah perjuangan bocah desa jago bola yang ingin bercita-cita sebagai pesepakbola profesional. Kisah from zero to hero ini selalu menarik. Walau cerita macam ini terasa makin familiar sejak sukses Laskar Pelangi, dengan penggarapan yang baik film macam ini masih asyik disaksikan.


2.Lima Elang











Di zaman serba digital saat anak-anak lebih sering main Blackberry atau PSP, masihkah Pramuka mengasyikkan? Film ini hendak mengatakan kalau ekskul Pramuka lebih asyik dari semua gadget itu. Bagi penonton anak-anak, film ini menuyuguhkan kisah petualangan yang mengasyikkan, sedang bagi penonton dewasa, film ini seperti nostalgia ke masa kecil saat masih aktif ikut Pramuka. Duet Rudi yang berpengalaman membuat film baik plus skenario Salman Aristo menghasilkan tontonan yang disuka seluruh anggota keluarga, baik anak-anak maupun orang dewasa.


3.The  Mirror Never Lies

 Buah jatuh tak jauuh dari pohonnya. Peribahasa itu pas menggambarkan sosok Kamila Andini. Seperti ayahnya, Garin Nugroho, Kamila bermain-main dengan tema tak biasa dengan setting eksotis. Kamila memilih kisah hubungan ibu dan anak perempuannya dengan latar kehidupan nelayan suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kawasan yang merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang. Seperti Garin, Kamila memiliki bakat menampilkan gambar-gambar indah. Ia berhasil memperlihatkan ratusan spesies makhluk bawah laut yang luar biasa itu, termasuk puluhan dolfin yang cantik, menyatu dengan cerita.   


4.Sang Penari (Sutr. Ifa Isfansyah) 

 

Dengan Sang Penari, Ifa Isfansyah naik kelas. Hanya dengan 2 film (satu lagi debutnya, Garuda di Dadaku) Ifa layak disejajarkan sebagai sutradara kelas wahid yang baru. Ia berhasil menerjemahkan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan baik. Ifa berpihak pada masyarakat biasa yang menjadi korban kemelut politik tahun 1965. Selama ini, tragedi 1965 nyaris tak pernah di angkat ke layar lebar dengan perspektif korban. Orde Baru memilih pendekatan propaganda, sedang Gie (2005, Riri Riza) masih berjarak dengan korban. Ifa mewakili pandangan generasi 1998 yang ingin membongkar segala teks yang pernah mengisi relung batin dan pikiran soal peristiwa G30S versi Orde Baru. Saat ia berhasil, kita ikut bersorak sebab akhirnya kita punya film yang bicara lebih jujur soal tragedi kemanusiaan itu.***


5.The Raid


 

 
 
Sutradara Gareth Evans
Produser Ario Sagantoro
Penulis Gareth Evans
Pemeran Iko Uwais, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Pierre Gruno, Tegar Satrya
Musik Fajar Yuskemal, Aria Prayogi (edisi TIFF 2011 dan perdana Indonesia); Mike Shinoda, Joseph Trapanese (edisi Sundance 2012 dan perdana AS/internasional)
Sinematografi Matt Flannery
Editing Gareth Evans
Studio PT Merantau Films
XYZ Films
Distribusi Celluloid Nightmares
(Seluruh dunia)
Sony Pictures Classics
(Amerika)
Tanggal rilis
  • 8 September 2011
(TIFF)
  • 21 Maret 2012
(Indonesia)
  • 22 Maret 2012
(Australia)
  • 23 Maret 2012
(Amerika)
Durasi 101 menit
Negara Bendera Indonesia Indonesia
Bahasa Indonesia
The Raid (sebelum diedarkan: Serbuan Maut[1]) adalah film aksi seni bela diri dari Indonesia yang disutradarai oleh Gareth Evans dan dibintangi oleh Iko Uwais. Pertama kali dipublikasi pada Festival Film Internasional Toronto (Toronto International Film Festival, TIFF) 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, para kritikus dan penonton memuji film tersebut sebagai salah satu film aksi terbaik setelah bertahun-tahun[2][3][4][5][6][7] sehingga memperoleh penghargaan The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award[8]. Terpilihnya film ini untuk diputar pada beberapa festival film internasional berikutnya, seperti Festival Film Internasional Dublin Jameson (Irlandia), Festival Film Glasgow (Skotlandia), Festival Film Sundance (Utah, AS), South by Southwest Film (SXSW, di Austin, Texas, AS), dan Festival Film Busan (Korea Selatan), menjadikannya sebagai film komersial produksi Indonesia pertama yang paling berhasil di tingkat dunia.
 Di jantung daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung apartemen tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh dan bandit yang berbahaya. Sampai saat ini, blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tidak tersentuh, bahkan untuk perwira polisi yang paling berani sekalipun. Diam-diam di bawah kegelapan dan keheningan fajar, sebuah tim elit polisi penyerbu berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu apartemen persembunyian tersebut untuk menyergap gembong narkotik terkenal yang menguasai gedung tersebut. Tapi ketika sebuah pertemuan dengan seorang pengintai membuka rencana mereka dan berita tentang serangan mereka mencapai sang gembong narkotik, lampu dalam gedung tiba-tiba padam dan semua pintu keluar diblokir. Terdampar di lantai enam dan tanpa jalan keluar, satuan khusus tersebut harus berjuang melawan penjahat-penjahat terburuk dan terkejam untuk bertahan hidup dalam misi penyerbuan tersebut.
Agustus 05, 2012 No Komentar
Hellooooooooooooooooooooooooo.... *kepanjangan
Kali ini aku akan ngeposting tentang masa masa saat aku duduk di bangku SMP tepatnya di SMP Negeri 23 Medan, terutama tentang kelas tercinta IX A Community dan pokoknya menyangkut tentang kami mulai dari kelas VII sampai VIII. Tapi mungkin foto foto kelas VII nya udah pada ilang atau mungkin pas kelas VII kami belum mood foto-foto wkwkwk. Cekidot yaw...

Wkwkwk nih kayaknya foto pas pertama kali masuk kelas VIII haha, waktu abis pelajaran olahraga gada guru yang masuk lagi jadi foto-foto deh :D *bandel
Dalam foto ini (mulai dari kiri): atas >>> Ayu, Yanti, Laras, Rani Zulfianti, Rani Anjani, Kekey
bawah >>> Ana, Ningsih, Fina, Aku, Lisma, Imah
*kalo mau liat facebooknya tinggal klik namanya yah :D

 


Kalo yang ini foto pas lagi olahraga, hahaha :D kalo disini foto aku gada, soalnya aku yang motoin foto ini sekaligus karena aku lagi gak mood foto gitu, wkwkwk:D
Dalam foto ini (mulai dari kiri): atas  >>> Imah, Kekey
 bawah >>>  Yanti, Rani Zulfianti, Dewi, Imah



 
Wkwkwkwk kalo ini pas abis lebaran, jadi rombongan cewek cewek  IX A Community datang ke rumahku, biasalah main main sama sekalian ngabisin kue di rumah aku *eh hahah :D




 Suka ngakak liat foto ini, muka aku jelek kali disitu wkwkkwkwkw :D
*masih culun




Kalo yang ini foto waktu renang kelas VIII  di Selayang :D
 





Kalo ini foto pas pulang sekolah hahah :D
Aku, Kekey, Imah, Ningsih




Haha, luar binasa :D di jalan sempatnya foto foto :D wkwkwk
Fika,  Kekey, Aku




Kalo ini di tempat persinggahan kami sepulang sekolah waktu kelas VIII, haha liat tuh si Imah masih jadi ST setia, sampe pin jilbabnya foto charly ST 12 heheh :D




Kalo yang ini pulang sekolah pas ultah Hajar (Kelas VIII) hahah, lumayan dapat kue gratis sekalian gangguin orang piket ckckck wkwkwk :D
Wah, si Ary mau berubah jadi power rangers :O




Apaan tuh gaya si Ary? ckc
Eh kok di belakang aku ada uka uka ya? :/ wkwkwk






Eh foto anak siapa nih ya? Eum *poke Hendri
Di belakangnya ada penampakan W O W WOW *poke Rizky




Hahaha, ini pas pulang sekolah hujan hujanan (kelas VIII), awalnya kami gatau mau pulangnya kayak mana, untung aja ada payung Bu Ampera ketinggalan di kelas, jadi pinjam payungnya Bu Ampera deh, sssstt diam diam aja ya :D



Cieee anak sapa nih ya??? *poke  Kekey





 Loh? -__-  Imah ngapain gelatungan disini -_____________-

 



Ini foto kapan ya? Lupa -____- Kayaknya foto abis pulang dari rumah Mela
(Kelas IX)




Kalo ini foto di rumah Rani Zulfianti :D




Cantik kali ah LKS nya, LKS siapa lah ini kalo kelen tau?

  


Inilah biang kerok kalo lagi gada guru di kelas wkwkwk  Rizky (Tukang nokok in anak orang) & Ary (Si Jago Akting) Wkwkwkwk




Maklum yah obat si Woyok sama si Ary lagi abis nih haha :D




Eh, ini foto siapa sih?




Seh, pening wak bos  Farhan :D




 Si Fahmi sama Napi :D




Wkwkwk pada ngapain 4 sekawan ini? :D
 
 


Ginilah suasana nyontek bareng ala kami hahaha :D (Kelas VIII)




Si  Hajar serius amat nyonteknya wkwkwk :D






Kalo yang ini foto waktu kelas VIII terakhir, kami pikir  pas kelas XI nanti kami bakal dipecah kelasnya jadinya kami foto bareng untuk yang terakhir kalinya, eh rupanya enggak hahah:D





Dan ini adalah kenangan terakhir dari IX A SMP Negeri 23 Medan T.A 2011-2012 :"")





Sebenarnya sih masih banyak lagi ya, tapi cukup sampai sini ajalah dulu. Nanti kapan kapan aku postingin lagi, Hahah :')
I'll never forget all about SMPN 23 Medan and my lovely friends IX A Community. I love you so much :* I'll miss you all :*
Juli 04, 2012 No Komentar
Pada postingan kali ini aku cuma mau ngeshare gimana caranya buat huruf yang bermotif foto kita (Photo Font). heheh entah dapat dari mana aku ide kayak gini, awalnya sih iseng aja mainin paint dan terpancar deh tuh buat Photo Font.
Aku ngeshare bukan karena apa, tapi biar aku gak capek buatin punya orang -___- biar bisa buat sendiri, heheheh sekalian berbagi dengan para pembaca *ceilah hahaha caraya gampang banget gak payah payah kok. Buat yang udah tau diam diam aja ya gausah banyak komentar heheh. Nah yang belum tau boleh baca postingan ini

Dapur olah : Paint

Cara buat foto font:
1. Buka software paint di PC kamu, tau kan cara bukanya? Jangan sampe gak tau deh, gawat banget lo











*sorry kalau background laptop ku agak gimana gitu ya :D

2. Terbuka deh tuh paint nya


3. Buka deh foto yang pengen kamu jadiin font, tinggal pilih terus open














4. Tet teret tettettttt.... Muncul lah fotonya yang udah kamu pilih














*Tolong nengok foto aku biasa aja ya, tau kok cantik :P heheh *kepedean-___-




5. Terus  pilih ikon cat tumpah. Warnai background yang warna putih dengan warna lain, terserah deh warna apa aja yang penting backgroundnya bewarna
















6. Habis itu plih ikon font dan pilih jenis huruf kesukaanmu, kalau bisa yang agak tebelan dikit hurufnya biar hasilnya bagus. Dan jangan lupa hurufnya harus warna putih, gak boleh warna yang lain. Jangan lupa pilih transparent mode.




















7. Lalu pilih select untuk memilih dan mindahin hurufnya ke atas foto. Dan jangan lupa klik transparent selection.






























8. Dan terakhir hapusin bagian bagian yang tidak diperlukan. Dan jadi deh photo font nya


















Untuk huruf huruf berikutnya sama seperti cara cara diatas, kalian bisa ikutin cara-caranya. Dan hasilnya nanti bisa seperti ini:





Buat editing selanjutnya bisa pake Photoscape, Picasa, atau Adobe Photoshop. Semoga postingan aku kali ini bisa bermanfaat ya buat semua para pembaca. ^_^
Jangan lupa ya ngepost komentar kalian , aku sangat membutuhkan masukan dan komentar buat blog ini :)
Juni 22, 2012 13 Komentar

           Pagi itu Widi menunggu antaran ke sekolah. Seperti biasa sahabat Widi dari SD yang bernama Gilang selalu hadir untuk berangkat sekolah bersama-sama dengan Widi. 
           “Ih, lama banget sih si Gilang. Udah mau telat nih.” Batin Widi cemas sambil melihati jam tangan pink nya yang ia beli kemarin.
          Tak berapa lama terdengar nya suara klakson sepeda motor. Tak lain dan tak bukan itu adalah Gilang, seperti biasa dia menjemput Widi dengan sepeda motor matic nya yang berwarna hitam.
          “Lama banget sih Lang, udah jam 07.20 nih. Bisa-bisa kita kena strap lagi kayak minggu lalu. Aku belum siap PR Matematika lagi.” Omel Widi sambil naik ke sepeda motor Gilang.
          “Sorry Wid, tadi aku kesiangan. Udah tenang aja aku udah siap kalau PR itu. Itu mah gampang.” Sambung Gilang yang mulai menggas sepeda motornya.
          “Ya deh yang professor matematika itu.” Ejek Widi.
          Setelah ngebut-ngebut, tak terasa mereka sampai juga di sekolah. Untungnya mereka sampai bertepatan dengan bunyinya lonceng masuk.
          “Untung aja ya kita nggak terlambat.” Ucap Widi sambil berlari menuju kelas bersama Gilang.
          “Haha, iya. Kalau nggak kita udah hormat bendera tuh sampai les pelajaran ke tiga.” Sambung Gilang dengan canda.
          Mereka pun mulai masuk ke kelas dan duduk di bangku mereka. Les pelajaran pertama pun dimulai yaitu pelajaran Olahraga. Murid-murid kelas 9-3 mulai berhamburan untuk mengganti pakaian olahraga setelah mendapat intruksi dari guru mereka.
          Saat Gilang mau pergi ganti pakaian bersama temannya, Widi yang masih duduk menarik tangan kiri Gilang, “Gilang?”
          Gilang yang melihat tangannya dipegang oleh Widi tiba-tiba jadi salah tingkah, “Aduh, apaan sih Wid?”
          “Lihat MM dong?”
          “Eeee, aku kira apaan. Ambil noh di tasku. Emang kamu nggak olahraga?”
          “Perutku lagi sakit Lang, tadi pagi belum sarapan soalnya kan keburu-buru. Aku udah bilang tadi kok sama Pak Guntur.” Jelas Widi.
          “Oh, ya udah aku ganti baju dulu ya.”
          “Ya.”
          Les pelajaran pertama pun selesai, anak-anak 9-3 mulai berhamburan mengganti pakaiannya. Gilang yang sudah berganti pakaian memasuki kelas dengan membawa roti bakar dan air mineral, lalu dia menuju bangkunya dan memberikannya pada Widi.
          “Apa-apaan nih?” Tanya Widi heran.
          “Tapi kamu belum sarapan, ini aku bawakan makanan. Udah makan dulu entar kamu pingsan pula.”
          “Hehe, kamu baik banget sama aku. Thanks ya Lang.” Widi lalu tersenyum.
          Widi pun lalu memakan roti bakar yang dibawa Gilang. Sesekali Gilang menatap ke arah Widi dan tersenyum sendiri ketika melihat Widi, Widi yang tak sengaja melihat Gilang pun merasa heran.
          “Kenapa Lang? Sawan ya? Haha.” Tanya Widi heran.
          “Nggak apa-apa kok.” Kemudian Gilang berbalik dan ngobrol dengan Ibnu.
          Lonceng pergantian pelajaran pun berbunyi dan mereka melanjutkan pelajaran mereka yaitu Matematika dan pelajaran seterusnya. Sampai akhirnya lonceng pulang pun berbunyi.
          Widi keluar kelas bersama teman-teman ceweknya. Sesampainya di tempat parkir, Widi pun berpisah dengan teman-temannya dan pulang bersama Gilang.
          “Wid, ke rumahku yuk.” Ajak Gilang.
          “Ngapain Lang?” Tanya Widi.
          “Nggak ada, main-main aja lah. Oh ya, aku juga baru beli ipad loh. Haha, sekalian Mamaku juga masak enak hari ini. Ayo lah Wid?”
          “So pasti lah aku ikut. Jadi kemek-kemek yang ipad baru? Haha.” Canda Widi.
          “Haha, bisa aja.”
          Akhirnya mereka pun sampai di rumah Gilang. Lalu mereka pun masuk. Mama Gilang lalu menyambut kedatangan Widi dan Gilang. Ya, Mama Gilang sudah kenal baik dengan Widi. Widi memang sering berkunjung ke rumah Gilang dan main dengan Gilang. Maklum, mereka sahabat dari SD.
          Setelah itu Gilang main playstation di kamarnya sedangkan Widi sibuk mengotak-atik ipad baru Gilang.
          “Wid, entar dulu ya aku mau turun ke bawah, mau lihat masakannya udah jadi atau belum.”
          “Oke deh, sip.”
          Sementara Gilang ke dapur, Widi mulai bosan dengan ipad Gilang. Dia lalu mengobrak-abrik rak buku Gilang mencari komik atau novel untuk dibacanya. Ups, tidak sengaja Widi nemui sebuah surat didalam komik Himimaru kesukaannya. Karena penasaran, Widi lalu membacanya.

           To      : Widi
          From  : Gilang
          Wid, kamu tau nggak? Kalau aku di dekat mu rasanya nyaman banget. Entah kenapa hatiku bawaannya senang terus. Apa lagi tiap hari kita pergi dan pulang sekolah bareng. Dan akhir-akhir ini entah mengapa aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang aku sendiri pun nggak tau. Aku tau ini salah, kita berdua bersahabat dan nggak mungkin aku menyatakan semua ini sama kamu. Tapi aku harus bilang, kalau aku sayang sama kamu Wid. Aku pengen kita lebih dari sahabat, tau kan maksud aku?

          Widi terkejut saat membaca surat kecil itu dan merasa tak percaya. Tiba-tiba Gilang masuk dan langsung menarik surat yang dipegang Widi.
          “Ih kamu Wid, ini kan privasi ngapain dibaca-baca.” Wajah Gilang tampak memerah dan keringatnya mulai bercucuran.
          Widi hanya tersenyum, “Ini beneran Lang?”
          “Kalau iya kenapa? Dan kalau nggak kenapa?” Gilang mulai membeli-belitkan pertanyaannya.
          “Ya, kalau emang iya aku bakal jawab iya. Kalau nggak sih juga nggak apa-apa.” Jawab Widi singkat.
          “Ya udah, ini beneran. Kamu mau kan?” Gilang mencoba untuk memastikan.
          “Iya Lang, coba aja kita jalani dulu.” Widi kembali tersenyum.
          “Makasih ya Wid.”
          “Oke Lang.”
          Mereka lalu turun ke bawah untuk menyantap makan siang mereka yang sudah dibuat Mamanya Gilang. Dan kini hubungan mereka telah berubah dari bersahabat menjadi berpacaran. Apakah ini akan bertahan lama?
          Sebulan pun berlalu, Gilang dan Widi jadi jarang berkomunikasi semenjak mereka pacaran, itu pun hanya berkomunikasi di kelas saja, bahkan mereka akhir-akhir ini jarang pergi dan pulang sekolah bersama. Gilang lebih sering menghabiskan waktunya bersama teman-teman basketnya sedangkan Widi sibuk dengan kegiatan OSIS nya.
          Dan pada akhirnya Widi merasakan suatu keganjalan dalam hubungan mereka. Ini tidak seperti dulu, mereka yang dulu selalu ada waktu untuk bersama sedangkan sekarang hampir tidak pernah mereka meluangkan waktu untuk bersama. Entah mengapa Widi mulai menyadari kalau bersahabat itu lebih menyenangkan dari berpacaran. Besoknya Widi pun mulai berbicara pada Gilang.
          “Lang, aku boleh ngomong nggak sama kamu?” Tanya Widi pada Gilang agak serius.
          “Boleh, mau ngomong apa?”
          “Selama ini kamu ngerasain perubahan nggak semenjak kita pacaran? Dijawab ya?”
          " Gak ada yang berubah kok Wid." Jawab Gilang agak ragu.
          "Aku nanya serius loh Lang?" Widi kembali memastikan.
          “Hem, sebenarnya iya sih Wid, banyak banget perubahan kita. Kita jadi nggak kayak dulu. Hem…”
          “Enakan juga kayak dulu ya Lang? Kita bisa main sama-sama, main PS, jalan-jalan, tapi kok sekarang beda banget ya? Aku pikir pacaran bisa bikin kita makin dekat, tapi malah sebaliknya.”
          “Iya Wid, sedih juga sih.”
          “Aku sih pengennya kita kayak dulu Lang, bisa sahabatan. Menurut kamu gimana?” Ungkap Widi.
          “Ya, sebenarnya aku juga sih Wid. Dari minggu kedua kita pacaran aku juga udah ngerasain gitu, tapi ya aku kan nggak mau buat kamu kecewa.”
          “Sama lah Lang. Jadi gimana keputusan kita Lang? Masih pacaran atau kita sahabatan kayak dulu?”
          “Sahabatan lebih baik kali ya Wid. Hehe.”
          “Hehe. Oke sob, jawaban itu lah yang aku mau.” Widi pun tersenyum.
          Mereka lalu saling tos dan mereka mulai kembali bersahabat seperti dulu. Mereka jadi akrab kembali dan sering bermain bersama lagi. Ini lah akhir dari cerita Widi dan Gilang. Bersahabat itu lebih baik kan? (Tamat)
Mei 30, 2012 No Komentar
Newer Posts
Older Posts

Pengunjung

About me

About Me


Bukan penulis, hanya seseorang yang ingin menulis (saja).

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  Februari (1)
      • Dulu
  • ►  2015 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2014 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2013 (7)
    • ►  September (1)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2012 (17)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  September (4)
    • ►  Agustus (4)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2011 (4)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Oktober (2)

recent posts

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose